Indahlink.com-Memasuki satu wilayah, terasa kurang lengkap tanpa mencicipi kuliner khas daerah tersebut. Seperti hari ini, saya melakukan perjalanan menuju kota tetangga Temanggung, untuk bersilaturahmi ke rumah Bapak Ali Murtadlo, teman suami saya, tepatnya di daerah Sumberan, Wonosobo, Jawa Tengah (7/7/24).
Kami bertiga (saya, suami dan anak) berangkat pada pukul 10.25 wib dengan mengendarai motor, tidak lupa menyiapkan jas hujan sebagai langkah ikhtiyar jika nanti di perjalanan turun hujan, karena cuaca saat ini yang cepat sekali berganti. Kami menikmati perjalanan yang semula tidak ada dalam rencana, keinginan spontan yang tetiba hadir dalam pikiran, ingin bersilaturahmi ke rumah teman suami saat masa kuliyah dulu. Udara sejuk semakin terasa saat memasuki area dataran tinggi, di sebelah kanan kiri tampak gunung Sindoro Sumbing yang tinggi menjulang, hamparan hijau dari kebun teh, bak permadani yang memanjakan mata. Ketika sampai di daerah Kledung, hujan mulai turun cukup deras, kami pun menepikan motor untuk menggunakan mantol (jas hujan).
Akhirnya, kami sampai di salah satu rumah makan terkenal khas Wonosobo, yaitu mi ongklok. Kami menikmati makanan hangat di tengah hujan yang masih mengguyur, diantara riuhnya pembeli yang sangat membludak. Warung ini buka mulai pukul 09.30 hingga pukul 20.00 wib, namun jika sangat ramai, setelah ashar pun kadang sudah tutup karena habis. Setelah membayar pesanan, kami melanjutkan perjalanan, yaitu ke daerah Sumberan. Berbekal share lock yang dikirim Bapak Ali, kami pun menyusuri kota Wonosobo, hingga tiba di tujuan pada pukul 12.30 wib. Ternyata beliau hanya sendiri di rumah, karena Mbak Tri Kusumawati, istrinya, sedang berada di rumah orang tuanya.
Setelah berbincang-bincang, kami pun diajak menemui istri, anak dan keluarga Pak Ali yang sangat ramah dan baik, tepatnya di Kelurahan Jaraksari RT 02 RW 01, Kecamatan Wonosobo, konon merupakan RW terpadat se-Indonesia yaitu terdiri dari 15 RT dengan masing masing RT berjumlah hampir 50 KK. Selain itu, Jaraksari merupakan daerah sentra makanan khas Wonosobo yaitu mi ongklok, kurang lebih ada sekitar 100 pedagang mi ongklok berada disini.

Salah satu pedagang mi ongklok keliling
Ketika gerobag pedagang melewati depan rumah Pak Ali, kami pun tidak ingin menyia-nyiakan tanpa mencicipi,. Mi ongklok terdiri dari mi kuning, kol, daun kucai, tahu goreng, kuah special kental, bawang goreng dan pelengkapnya adalah sate sapi dengan bumbu kacang yang nikmat. Awalnya, saya kurang menyukai mi ongklok karena kuahnya yang kental, namun setelah mencoba dari sumber aslinya yang “original”, saya merasa ketagihan dan jatuh hati, apalagi ditambah dengan tempe mendoan khas Wonosobo yang fua-fua, semakin menambah nikmat mi ongklok di dalam mangkok. Satu porsi mi ongklok, di bandrol dengan harga Rp 18.000 rupiah, lengkap dengan sate sapi yang fresh, karena dibakar di atas arang saat ada pembeli. Pedagang ini menjajakan dagangannya dengan menggunakan gerobak, berkeliling daerah di sekitarnya, diantaranya menuju alun-alun kota Wonosobo. So, jangan lupa, nikmati mi ongklok khas Wonosobo yang menggoda..

Referensi kuliner yang harus dicari ketika ke Wonosobo. Tulisan sudah berciri Robandian. Hanya saja penulisan kata masih kurang tepat. Kata diantaranya seharusnya di antaranya (kata depan). Kata di bandrol seharusnya dibandrol (imbuhan).
Siap Bu Ruki, terima kasih atas koreksinya…
Yummy…
Nggih Bu Endang…monggo
Tergoda
ha ha…
Waw, pasti enak nih, Bu Indah. Terima kasih sudah berbagi cerita. Sukses selalu Bu Indah
Aamiin, terima kasih Amak. sukses juga untuk Amak
Tentu rasanya sangat lezat dan nikmat
Betul Cak, monggo kapan ke Wonosobo boleh mencicipi..
Dua kali ke Wonosobo belum sempat merasakan mie ongklok, semoga segera terkabul dolan ke Wonosobo lagi. Bismillah
Aamiin.. rasanya rekomend yang menjual di gerobag bu dokter, rasanya lebih nikmat, harga juga lebih miring..